Saya rasa balasan apapun tak kan pernah bisa untuk menggantikan hati dari seorang sahabat.
Seperti cerita inspiratif berikut
PERBEDAAN
ITU INDAH
“Bintang yang setia
pada malam, begitu pula kesetiaan embun menemani pagi. Matahari yang tak pernah
lelah terangi dunia ini. Seperti itulah persahabatan, selalu setia tanpa
diminta. Saling mengerti tanpa harus memohon. Tak ada satupun orang di dunia
ini yang hidup tanpa persahabatan, persahabatan adalah kisah terindah yang tak
terlupakan bagi setiap insan yang pernah merasakannya”.
Masa remaja adalah masa dimana kita mencari jati
diri, dimana kita menjadi diri kita sendiri. masa-masa ini adalah masa yang
membebaskan kita untuk mendapat berbagai macam teman. Dari yang berbeda sifat,
berbeda kebiasaan, sampai berbagai macam kefahaman. Yang kemudian berbaur
menjadi satu titik dalam sebuah persahabatan.
Anita,
Karina, Shinta, dan Ratna seperti biasa sedang duduk di kantin sekolah ketika
sedang istirahat. Mereka ngobrol, menyanyi, dan menjaili satu sama lain.
Sungguh seperti sebuah keluarga yang harmonis.
“Aaaarrgghh......”
tiba-tiba teriakan itu mangejutkan seluruh pengunjung kantin. Dengan sigap,
Anita langsung membungkam mulut Karin.
“Kenapa
sih kamu?”, tanya Anita.
“Gue
lupa kalo bentar lagi hari natal, sedangkan gue belum nyiapin apa-apa buat
natal”, jelas Karin.
“Tapi
gak pakek teriak juga kaliii....”, sahut Shinta dan Ratna.
“Gue
aja gak seshock itu! Yaa,, walaupun gue lupa juga sih” , lanjut Shinta (dengan
muka innocent).
Akhirnya mereka semua membicarakan tentang hari
natal yang akan datang. Meskipun Anita dengan Ratna orang muslim, tapi mereka
tetap mau berteman bahkan membantu Karina dan Shinta untuk merencanakan
persiapan mereka. Karena Anita dan Ratna tidak mau menyakiti hati temannya jika
mereka pergi untuk menghindari perbedaan kefahaman itu.
“Hmmm..
gimana kalau kalian ikut kita belanja buat hari natal nanti!”, ajak Karina kepada Ratna dan Anita.
“Gimana,Rat?”,
tanya Anita.
“Bentar,
aku pikir dulu ”, jawab Ratna.
“OK,
gue tunggu!”, lanjut Karina.
“OK
deh,, nanti kita shopping”, sahut Ratna.
“Eddahh..
lluh mikir cepet amat”, protes Shinta (sambil ngelirik Ratna).
“Kan
pakai speedy. Hahaha...”, cengir Ratna.
Akhirnya bel pulang berbunyi, mobil penjemput Karina
pun sudah siaga di depan gerbang sekolah. Mereka langsung menuju mobil dan
menuju mall yang akan dituju untuk berbelanja.
Setelah mereka sampai di depan
mall, Karina pinta pada sopirnya untuk dijemput nanti sepulang belanja.
“Pak, nanti jemput kita jam tiga ya!”, pinta Karina
pada pak sopir.
“Baik, Mbak!”, sahut pak sopir.
Setelah mereka masuk ke toko yang
dituju, mereka langsung mencari barang yang dibutuhkan. Berhubung si Ratna dan
si Anita gak ngerti apa-apa, jadi mereka lebih memilih untuk diam mengikuti
arah jalan tapak kaki Karina dan Shinta.
“Kalian kok diam aja sih?. Apa gak mau beli sesuatu
gitu?. Kan disini banyak barang-barang cantik.”, cerewet Karina.
“Kalaupun kita harus beli, kita juga gak tau mau
beli apa dan mau dipakai apa?”, jelas Ratna.
“Iihh,, lluh mah ga bisa jaga sikap banget. Mereka
kan gak sama kaya kita”, bisik Shinta.
“Oh iya, gue lupa”, cengis Karina.
Tak terasa mereka sudah dua jam
mengelilingi mall itu. Dan perut merka pun sudah memohon untuk diberi jatah
makan siangnya.
“Perut gue udah curhat nih!”, rintih Shinta
“Ahh... makan aja yang lluh pikirin tuh, Shin!”,
balas Karina
“Udah dehh gak usah ribut. Gak malu apa banyak orang
kayak gini?”, ceramah Ratna
“Ampun DJ...”, ejek Anita (sambil gaya memohon
ampun). “OK, kita cari tempat makan aja yuk!”, sambung Anita.
Setelah
mereka makan siang, akhirnya mereka keluar dari mall, dan tepat jam tiga mobil
penjemput Karina dan teman-temannya pun sudah menunggu. Meraka langsung pulang
menuju rumah masing-masing. Tapi, Karin terlebih dahulu mengantarkan
teman-temannya pulang kerumah.
“Makasih ya
Karin cantik udah nganter kita sampe rumah”, kata Shinta, Anita, dan Ratna
serempak.
“OK,
urwel(you’re welcome)!”(sambil pasang wajah sombong), kata Karina.
Tak
terasa malam tahun baru pun sudah dekat, tinggal dua hari lagi. Pastinya Karin
dan Shinta disibukan dengan persiapan untuk menyambut hari natal.
“krrriiiingg........”, HP Ratna berbunyi. Dilayar
Hpnya tampak nama Shinta yang muncul.
“Halo, dengan Ratna disini. Mau bicara dengan
siapa?”, sapa Ratna dengan iseng.
“Gue mau ngomong sama temen gue.”, jawab Shinta
ketus.
“hahaha,,, gak sopan kamu, Shin!”, protes Ratna.
“Abis lluh bercanda mulu!”, rengek Shinta bak anak
kecil yang minta permen.
“Ya maaf kakak,, hehehe..”, ledek Karina. “Oh ya..
ada apa tumben banget kamu telfon?”, sambung Ratna.
“Lluh bisa kan datang kesini? Bantuin gue buat
ngehias pohon natal nih!”, pinta Shinta dengan memohon.
“Jemput aku ya! Hehe...”, jawab Ratna.
“Ahh lluh mah.. OK deh, cepet siap-siap lluh!”,
pinta Shinta.
“OK, cantik”, puji Ratna.
Tak berapa lama Shinta sudah sampai
di depan rumah Ratna. Ia langsung membun yikan klakson untuk memberitahukan
kepada Ratna kalau dia sudah datang. Setelah Ratna keluar dari rumahnya, merka
langsung pergi ke rumah Shinta, dan sampailah di rumah Sinta. Tanpa banyak
bergurau mereka langsung melakukan pekerjaan yang harus merka kerjakan.
Keesokan
harinya seperti biasa mereka sedang asyik nongkrong di kantin saat jam
istirahat.
“Ehh.. dua hari
lagi kan sudah malam hari natal. Kalian mau kan datang ke rumah gue. Ortu gue
ngadain acara loh.” Cerocos Karina.
“acara apaan?”,
tanya Ratna.
“adaah ajjah!”,
sahut Karina.
“emang kalau gue
ke rumah lluh, lluh mau ngasih gue apa?? Hmmm...??”(sambil menganggkat wajah),
tantang Shinta.
“kalau di kasih
duit aku mau dahh!”(sambil meringis), sambung Anita.
(Sambil
memutar-mutar mata),”yyee,,,maunya lluh tuh, Nit!.
“Pokoknya kalian
dateng aja dehh!. Pasti seru kok.”, jelas Karina.
Setelah
mereka berbincang-bincang tentang acara undangan dari orang tua Karina tak
terasa bel tanda masuk kelas pun sudah terdengar. Akhirnya mereka memasuki
kelas hingga bel tanda pulang sekolah terdengar.
“Besok kan
libur, gue tunggu kalian lusa buat dateng ke rumah gue!”, pinta Karina.
“Hmm,, iya dehh
kita bakal dateng”, jawab Ratna.
“Setelah acara
selese kita HO(hang out) yuk!. Kan lumayan sambil ngerayain natal di luar”,
kata Shinta.
“Dari pada kita
ngabisin waktu buat hal-hal yang menyita waktu kaya gitu, mending kita belajar
bareng. Kan satu bulan lagi kita sudah mau UTS.”, ajak Anita.
“Nahh... aku
setuju banget ma kamu, Nit”, sambung Ratna.
Karena
menurut Ratna dan Anita merayakan malam natal adalah suatu hal yang hanya
menghabiskan waktu saja, jadi untuk tidak menyinggung perasaan temannya, mereka
mengajak temannya untuk belajar kelompok pada malam natal itu.
“Meskipun kita
berbeda faham dengan teman, namun itu tidak menghalangi kita untuk tetap
berkawan dengannya. Bahkan kita bisa mengajak mereka kedalam hal-hal yang
positif dari kejelekan kegiatan yang biasa mereka kerjakan.”
Mereka
semua setuju tentang usulan untuk belajar bersama. Mereka merencanakan waktu
dan dimana mereka akan melalukan belajar bersama. Akhirnya mereka sepakat untuk
belajar bersama di rumahnya Ratna.
Esok
harinya Ratna, Shinta, dan Anita datang ke rumah Karina untuk memenuhi undangan
dari orang tua Karina. Setelah acara telah usai, merka langsung pergi ke rumah
Ratna untu belajar bersama. Sampailah mereka di ruah Ratna, menunggu Ratna
mengambil jamuan untuk ketiga temannya, teman-temannya bersantai di ruang
keluarga sambil menikmati cara televisi.
Bagi
mereka sebuah pertemanan ini lebih dari sahabat. Meraka sudah menganggap
hubungan ini seperti saudara. Jadi sudah tak ada rasa sungkan lagi untuk
melakukan hal apa saja yang mereka inginkan ketika bermain di rumah salah satu
dari mereka (pokoknya gak ngeberantakin rumah loh).
Saat
mereka asyik belajar dalam suasana hening, tiba-tiba Shinta memecahkan suasana.
“Guys, gue lagi
sedih banget nih.”, rengek Shinta.
“Kamu ada
masalah lagi?”, tebak Ratna. Karena hanya Shinta lah orang yang paling sering
ngeluh tentang masalahnya. Walaupun bukan masalah yang serius. Setelah Shinta
menceritakan masalahnya, teman-temannya pun banyak memberikan solusi kepadanya.
“Makasih banget
ya guys, kalian selalu ada buat gue”(sambil mengisak tangisnya), kata Shinta.
“Don’t worry
baby, we always for you”, sambung Ratna yang mendramatisir suasana.
“Hahaha,,, sok
dramatis lluh, Rat”, ejek Karina.
“Yang penting
happy... hwehehehe..” balas Ratna
Merka
tak sungkan-sungkan untuk menceritakan semua masalahnya satu sama lain. Dan
mereka juga tak jemu-jemu untuk selalu mengingatkan ketika salah satu diantara
meraka ada yang salah atau melakukan tindakan yang menyimpang. Mareka tak akan
pernah rela apabilah salah satu dari temannya ada yang berbuat tidak sesuai
dengan norma yang ada.
Tiba-tiba suara
merdu terdengar dari Anita
“Kau teman yang
selalu saja sejalan dan aw aw
Selalu ada bersama aw aw aw
Teman sejati takkan pisah selamanya
Selalu ada bersama aw aw aw
Teman sejati takkan pisah selamanya
Semua takkan bisa menjadi nyata aw aw
aw
Jika kita tak bersama aw aw
Selalu percaya dan yakinkan semua”.
Jika kita tak bersama aw aw
Selalu percaya dan yakinkan semua”.
Akhirnya semua ikut melantunkan lagunya,
” Kau menghapuskan setiap luka
Mengingatku tentang mimpi terpendam
Agar semua kan menjadi nyata
Mengingatku tentang mimpi terpendam
Agar semua kan menjadi nyata
Satukan hati dan tersenyum
Yang ada ceria genggam tanganku
Yakin bisa mengalahkan dunia
Yang ada ceria genggam tanganku
Yakin bisa mengalahkan dunia
Kau teman (ya) yang selalu saja sejalan
dan (pastikan)
Selalu ada bersama (aku kamu)
Teman sejati takkan pisah selamanya”
Selalu ada bersama (aku kamu)
Teman sejati takkan pisah selamanya”
(sambil tertawa
geli)”hahaha,,,”, tawa Shinta.
“Kok ketawa sih,
Shin?”, tanya Ratna dengan wajah innocennya.
“Gak papa kok. Gak
terasa aja pertemanan kita udah selama ini. Kita udah jalanin semua bersama.”,
jelas Shinta.
“Mulai dari dengerin
kegalauannya Shinta, seneng-seneng bareng, susah bareng. Semua begitu cepet
banget.”, tambah Anita.
“Iihh.. Anita jahat.
Masa cuma gue aja yang galau. Emang merka-mereka enggak?”, protes Shinta sambil
menunjuuk kedua teman yang lain.
“Hahahaha......”,
tawa mereka serempak.
Karina
tak berkata sedikitpun. Dia hanya bisa menahan isak tangisannya, karna dia tau
bahwa hanya ketiga temannya lah yang bisa membuat hari-harinya menjadi sangat
menyenangkan. Entah apa yang akan terjadi jika dirinya tak bisa mengenal ketiga
temannya.
Terutama
dengan Ratna dan Anita. Kedua temannya itu sangat perhatian dengannya. Meskipun
perbedaan ada apada diri mereka, namun bagi Shita kedua temannya itu bisa
memberikan sikap yang baik kepadanya. Ia sangat berterimakasih dengan semua yang
tuhan berikan kepadanya dan dengan adanya ketiga teman yang sangat
menyayanginya.
“Segala
sesuatu yang terjadi pada diri kita pasti akan berakhir pada keindahan yang
akan datang tepat pada waktunya. Seperti seekor ulat yang menunggu keindahan
untuk menjadi seekor kupu-kupu” dan “persahabatan itu ibarat sekotak krayon,
masing-masing punya warna yang berbeda. Tapi ketika dipadukan mereka akan
menjadi sebuah pelangi yang indah”
TAMAT