Kamis, 02 Oktober 2014

TEST

Sahabat adalah seseorang yang tanpa di undang datang dalam kehidupan kita. Mereka dengan besar hati mau melewati masa-masa yang tak diinginkannya bersama kita. entah itu sedih, senang, susah, maupun gembira.
Saya rasa balasan apapun tak kan pernah bisa untuk menggantikan hati dari seorang sahabat. 
Seperti cerita inspiratif berikut

PERBEDAAN ITU INDAH

“Bintang yang setia pada malam, begitu pula kesetiaan embun menemani pagi. Matahari yang tak pernah lelah terangi dunia ini. Seperti itulah persahabatan, selalu setia tanpa diminta. Saling mengerti tanpa harus memohon. Tak ada satupun orang di dunia ini yang hidup tanpa persahabatan, persahabatan adalah kisah terindah yang tak terlupakan bagi setiap insan yang pernah merasakannya”.

Masa remaja adalah masa dimana kita mencari jati diri, dimana kita menjadi diri kita sendiri. masa-masa ini adalah masa yang membebaskan kita untuk mendapat berbagai macam teman. Dari yang berbeda sifat, berbeda kebiasaan, sampai berbagai macam kefahaman. Yang kemudian berbaur menjadi satu titik dalam sebuah persahabatan.
Anita, Karina, Shinta, dan Ratna seperti biasa sedang duduk di kantin sekolah ketika sedang istirahat. Mereka ngobrol, menyanyi, dan menjaili satu sama lain. Sungguh seperti sebuah keluarga yang harmonis.
“Aaaarrgghh......” tiba-tiba teriakan itu mangejutkan seluruh pengunjung kantin. Dengan sigap, Anita langsung membungkam mulut Karin.
“Kenapa sih kamu?”, tanya Anita.
“Gue lupa kalo bentar lagi hari natal, sedangkan gue belum nyiapin apa-apa buat natal”, jelas Karin.
“Tapi gak pakek teriak juga kaliii....”, sahut Shinta dan Ratna.
“Gue aja gak seshock itu! Yaa,, walaupun gue lupa juga sih” , lanjut Shinta (dengan muka innocent).
Akhirnya mereka semua membicarakan tentang hari natal yang akan datang. Meskipun Anita dengan Ratna orang muslim, tapi mereka tetap mau berteman bahkan membantu Karina dan Shinta untuk merencanakan persiapan mereka. Karena Anita dan Ratna tidak mau menyakiti hati temannya jika mereka pergi untuk menghindari perbedaan kefahaman itu.
“Hmmm.. gimana kalau kalian ikut kita belanja buat hari natal nanti!”,  ajak Karina kepada Ratna dan Anita.
“Gimana,Rat?”, tanya Anita.
“Bentar, aku pikir dulu ”, jawab Ratna.
“OK, gue tunggu!”, lanjut Karina.
“OK deh,, nanti kita shopping”, sahut Ratna.
“Eddahh.. lluh mikir cepet amat”, protes Shinta (sambil ngelirik Ratna).
“Kan pakai speedy. Hahaha...”, cengir Ratna.
Akhirnya bel pulang berbunyi, mobil penjemput Karina pun sudah siaga di depan gerbang sekolah. Mereka langsung menuju mobil dan menuju mall yang akan dituju untuk berbelanja.
Setelah mereka sampai di depan mall, Karina pinta pada sopirnya untuk dijemput nanti sepulang belanja.
“Pak, nanti jemput kita jam tiga ya!”, pinta Karina pada pak sopir.
“Baik, Mbak!”, sahut pak sopir.
Setelah mereka masuk ke toko yang dituju, mereka langsung mencari barang yang dibutuhkan. Berhubung si Ratna dan si Anita gak ngerti apa-apa, jadi mereka lebih memilih untuk diam mengikuti arah jalan tapak kaki Karina dan Shinta.
“Kalian kok diam aja sih?. Apa gak mau beli sesuatu gitu?. Kan disini banyak barang-barang cantik.”, cerewet Karina.
“Kalaupun kita harus beli, kita juga gak tau mau beli apa dan mau dipakai apa?”, jelas Ratna.
“Iihh,, lluh mah ga bisa jaga sikap banget. Mereka kan gak sama kaya kita”, bisik Shinta.
“Oh iya, gue lupa”, cengis Karina.
Tak terasa mereka sudah dua jam mengelilingi mall itu. Dan perut merka pun sudah memohon untuk diberi jatah makan siangnya.
“Perut gue udah curhat nih!”, rintih Shinta
“Ahh... makan aja yang lluh pikirin tuh, Shin!”, balas Karina
“Udah dehh gak usah ribut. Gak malu apa banyak orang kayak gini?”, ceramah Ratna
“Ampun DJ...”, ejek Anita (sambil gaya memohon ampun). “OK, kita cari tempat makan aja yuk!”, sambung Anita.
Setelah mereka makan siang, akhirnya mereka keluar dari mall, dan tepat jam tiga mobil penjemput Karina dan teman-temannya pun sudah menunggu. Meraka langsung pulang menuju rumah masing-masing. Tapi, Karin terlebih dahulu mengantarkan teman-temannya pulang kerumah.
“Makasih ya Karin cantik udah nganter kita sampe rumah”, kata Shinta, Anita, dan Ratna serempak.
“OK, urwel(you’re welcome)!”(sambil pasang wajah sombong), kata Karina.
Tak terasa malam tahun baru pun sudah dekat, tinggal dua hari lagi. Pastinya Karin dan Shinta disibukan dengan persiapan untuk menyambut hari natal.
“krrriiiingg........”, HP Ratna berbunyi. Dilayar Hpnya tampak nama Shinta yang muncul.
“Halo, dengan Ratna disini. Mau bicara dengan siapa?”, sapa Ratna dengan iseng.
“Gue mau ngomong sama temen gue.”, jawab Shinta ketus.
“hahaha,,, gak sopan kamu, Shin!”, protes Ratna.
“Abis lluh bercanda mulu!”, rengek Shinta bak anak kecil yang minta permen.
“Ya maaf kakak,, hehehe..”, ledek Karina. “Oh ya.. ada apa tumben banget kamu telfon?”, sambung Ratna.
“Lluh bisa kan datang kesini? Bantuin gue buat ngehias pohon natal nih!”, pinta Shinta dengan memohon.
“Jemput aku ya! Hehe...”, jawab Ratna.
“Ahh lluh mah.. OK deh, cepet siap-siap lluh!”, pinta Shinta.
“OK, cantik”, puji Ratna.
Tak berapa lama Shinta sudah sampai di depan rumah Ratna. Ia langsung membun yikan klakson untuk memberitahukan kepada Ratna kalau dia sudah datang. Setelah Ratna keluar dari rumahnya, merka langsung pergi ke rumah Shinta, dan sampailah di rumah Sinta. Tanpa banyak bergurau mereka langsung melakukan pekerjaan yang harus merka kerjakan.
Keesokan harinya seperti biasa mereka sedang asyik nongkrong di kantin saat jam istirahat.
“Ehh.. dua hari lagi kan sudah malam hari natal. Kalian mau kan datang ke rumah gue. Ortu gue ngadain acara loh.” Cerocos Karina.
“acara apaan?”, tanya Ratna.
“adaah ajjah!”, sahut Karina.
“emang kalau gue ke rumah lluh, lluh mau ngasih gue apa?? Hmmm...??”(sambil menganggkat wajah), tantang Shinta.
“kalau di kasih duit aku mau dahh!”(sambil meringis), sambung Anita.
(Sambil memutar-mutar mata),”yyee,,,maunya lluh tuh, Nit!.
“Pokoknya kalian dateng aja dehh!. Pasti seru kok.”, jelas Karina.
Setelah mereka berbincang-bincang tentang acara undangan dari orang tua Karina tak terasa bel tanda masuk kelas pun sudah terdengar. Akhirnya mereka memasuki kelas hingga bel tanda pulang sekolah terdengar.
“Besok kan libur, gue tunggu kalian lusa buat dateng ke rumah gue!”, pinta Karina.
“Hmm,, iya dehh kita bakal dateng”, jawab Ratna.
“Setelah acara selese kita HO(hang out) yuk!. Kan lumayan sambil ngerayain natal di luar”, kata Shinta.
“Dari pada kita ngabisin waktu buat hal-hal yang menyita waktu kaya gitu, mending kita belajar bareng. Kan satu bulan lagi kita sudah mau UTS.”, ajak Anita.
“Nahh... aku setuju banget ma kamu, Nit”, sambung Ratna.
Karena menurut Ratna dan Anita merayakan malam natal adalah suatu hal yang hanya menghabiskan waktu saja, jadi untuk tidak menyinggung perasaan temannya, mereka mengajak temannya untuk belajar kelompok pada malam natal itu.

“Meskipun kita berbeda faham dengan teman, namun itu tidak menghalangi kita untuk tetap berkawan dengannya. Bahkan kita bisa mengajak mereka kedalam hal-hal yang positif dari kejelekan kegiatan yang biasa mereka kerjakan.”

Mereka semua setuju tentang usulan untuk belajar bersama. Mereka merencanakan waktu dan dimana mereka akan melalukan belajar bersama. Akhirnya mereka sepakat untuk belajar bersama di rumahnya Ratna.
Esok harinya Ratna, Shinta, dan Anita datang ke rumah Karina untuk memenuhi undangan dari orang tua Karina. Setelah acara telah usai, merka langsung pergi ke rumah Ratna untu belajar bersama. Sampailah mereka di ruah Ratna, menunggu Ratna mengambil jamuan untuk ketiga temannya, teman-temannya bersantai di ruang keluarga sambil menikmati cara televisi.
Bagi mereka sebuah pertemanan ini lebih dari sahabat. Meraka sudah menganggap hubungan ini seperti saudara. Jadi sudah tak ada rasa sungkan lagi untuk melakukan hal apa saja yang mereka inginkan ketika bermain di rumah salah satu dari mereka (pokoknya gak ngeberantakin rumah loh).
Saat mereka asyik belajar dalam suasana hening, tiba-tiba Shinta memecahkan suasana.
“Guys, gue lagi sedih banget nih.”, rengek Shinta.
“Kamu ada masalah lagi?”, tebak Ratna. Karena hanya Shinta lah orang yang paling sering ngeluh tentang masalahnya. Walaupun bukan masalah yang serius. Setelah Shinta menceritakan masalahnya, teman-temannya pun banyak memberikan solusi kepadanya.
“Makasih banget ya guys, kalian selalu ada buat gue”(sambil mengisak tangisnya), kata Shinta.
“Don’t worry baby, we always for you”, sambung Ratna yang mendramatisir suasana.
“Hahaha,,, sok dramatis lluh, Rat”, ejek Karina.
“Yang penting happy... hwehehehe..” balas Ratna
Merka tak sungkan-sungkan untuk menceritakan semua masalahnya satu sama lain. Dan mereka juga tak jemu-jemu untuk selalu mengingatkan ketika salah satu diantara meraka ada yang salah atau melakukan tindakan yang menyimpang. Mareka tak akan pernah rela apabilah salah satu dari temannya ada yang berbuat tidak sesuai dengan norma yang ada.

Tiba-tiba suara merdu terdengar dari Anita
“Kau teman yang selalu saja sejalan dan aw aw
Selalu ada bersama aw aw aw
Teman sejati takkan pisah selamanya
Semua takkan bisa menjadi nyata aw aw aw
Jika kita tak bersama aw aw
Selalu percaya dan yakinkan semua”.

 Akhirnya semua ikut melantunkan lagunya,                
 ” Kau menghapuskan setiap luka
Mengingatku tentang mimpi terpendam
Agar semua kan menjadi nyata

Satukan hati dan tersenyum
Yang ada ceria genggam tanganku
Yakin bisa mengalahkan dunia
Kau teman (ya) yang selalu saja sejalan dan (pastikan)
Selalu ada bersama (aku kamu)
Teman sejati takkan pisah selamanya”

(sambil tertawa geli)”hahaha,,,”, tawa Shinta.
“Kok ketawa sih, Shin?”, tanya Ratna dengan wajah innocennya.
“Gak papa kok. Gak terasa aja pertemanan kita udah selama ini. Kita udah jalanin semua bersama.”, jelas Shinta.
“Mulai dari dengerin kegalauannya Shinta, seneng-seneng bareng, susah bareng. Semua begitu cepet banget.”, tambah Anita.
“Iihh.. Anita jahat. Masa cuma gue aja yang galau. Emang merka-mereka enggak?”, protes Shinta sambil menunjuuk kedua teman yang lain.
“Hahahaha......”, tawa mereka serempak.
Karina tak berkata sedikitpun. Dia hanya bisa menahan isak tangisannya, karna dia tau bahwa hanya ketiga temannya lah yang bisa membuat hari-harinya menjadi sangat menyenangkan. Entah apa yang akan terjadi jika dirinya tak bisa mengenal ketiga temannya.
Terutama dengan Ratna dan Anita. Kedua temannya itu sangat perhatian dengannya. Meskipun perbedaan ada apada diri mereka, namun bagi Shita kedua temannya itu bisa memberikan sikap yang baik kepadanya. Ia sangat berterimakasih dengan semua yang tuhan berikan kepadanya dan dengan adanya ketiga teman yang sangat menyayanginya.

“Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita pasti akan berakhir pada keindahan yang akan datang tepat pada waktunya. Seperti seekor ulat yang menunggu keindahan untuk menjadi seekor kupu-kupu” dan “persahabatan itu ibarat sekotak krayon, masing-masing punya warna yang berbeda. Tapi ketika dipadukan mereka akan menjadi sebuah pelangi yang indah”

TAMAT
 
Fhazaiz Chisan Blogger Template by Ipietoon Blogger Template